Dunia Cinta dan Tulang Rusukku

Posted on Updated on

Saya tercari-cari tulang rusuk yang telah lama saya hilangkan.

Seusai bangun dari mimpi yang panjang, dunia saya kini Dunia Baharu, telah lama saya tinggalkan Dunia Cinta yang mengiurkan itu…

Tulang rusuk, separuh saya temukan di dalam IGA (Zaen Kasturi). Barangkali serpihannya tidak cukup untuk membenarkan saya kembali kepada Dunia Cinta itu, lalu saya mengharung Sumsum Bulan Rawan (Kemala). Ahh…masakan saya dapat lupa, seminggu bergelumang puisi-puisi Menangguhkan Kebenaran (Baha Zain). Seminggu yang perit tetapi manis sekali. Itulah saatnya saya memasuki Dunia Cinta, Dunia Kepengarangan. Dunia orang-orang hebat yang berbalut topeng ‘Kami Manusia Biasa’ .  Masakan saya dapat lupa jua, lukisan manusia tenggelam dengan kakinya menghala bulan dan mentari…Sekeping kertas berbagi dua dengan puisi Sungai Mekong (Latiff Mohidin) yang mahsyur

Sungai Mekong

kupilih namamu

kerana aku begitu sepi

kan kubenamkan dadaku

ke dasarmu

kaki kananku ke bulan

kaki kiriku ke matari

kan kuhanyutkan hatiku

ke kalimu

namaku ke muara

suaraku ke gunung

Guru-guru yang kami kasihi selalu itu bercerita tentang menulis puisi dengan hati, mereka menambah pula bahawa puisi adalah pengucapan hati nurani. Saya mengunyah kata-kata yang terlontar seperti menelan pasir-kerana tidak dapat merasakannya, kalau pun ya, terasa begitu sukar…Lalu dengan secangkir kopi pekat berbusa (pada jam hampir 12 tengah malam seusai bengkel)  saya duduk mampiri sekujur tubuh seorang guru, dengan pen dakwat mahal dia pun mulai mencantas semua kata-kata hambar saya yang lahir dari minda dan kosong pengucapan nurani.

(Oh guru, sehingga kini saya masih menyimpan kepingan kertas itu meski dakwatnya telah luntur)

Malam-malam pun berlalu, memerah seluruh keringat, menghanyutkan kami dalam-dalam…Samuderanya begitu aneh, menakjubkan dan misteri yang asyik. Kerana ketakjuban kami padanya begitu dahsyat, tenaga kami diserap penuh-penuh oleh buku-buku yang berterabur di atas meja, di atas bangku, bahkan turut sama menumpang tilam empuk sepanjang minggu. 

(Saya malahan menggigau membuka pintu kamar kerana terlalu penat!)

Pelabuhan Putih dan Ziarah Tanah Kudup (Kemala) belum cukup. Memang saya perlukan lebih.

“Dunia Cinta dan Tulang Rusukku”, berdesir dalam pengucapan doa saya buat kesekian kalinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s