Merengguk Kata-kata: Kumpulan Puisi Terpilih Baha Zain

Posted on Updated on

BAHA ZAINPastilah tiada ada kata-kata yang mampu untuk menggambarkan perasaan saya waktu menerima naskhah ini. Rasanya seakan-akan S.N. Baha Zain yang mengirimkan dengan senyum tulusnya yang mahal. Dan sebagai tanda ingatnya, ada tandatangan yang masih hangat.

Sosok tubuhnya yang kecil itu, dikenali saya sewaktu ke Minggu Penulis Remaja 2008. Kami, pelajar-pelajar MPR 2008, mengulit buku puisinya ‘Postponing Truth & Other Poems’ yang dicetak pada kertas A4, berkulit hijau. Malam-malam saya ditemani ‘Menangguhkan Kebenaran’, siangnya diasak ilmu penulisan. Masih saya ingat serak suaranya yang lembut, mendeklamasikan puisi indah yang direka istimewa buat kami, tentang doa dan harapannya:

REMAJA
(untuk para fasilitator dan peserta MPR)

Kulihat senyum mereka
cempaka harum sewaktu pagi
dimandi cahaya, seakan mendung tak pernah ada
disirami sinar, seakan senja tak bakal tiba.

Kalau aku piala dahaga merindukan masa lalu
kudengar muzik bergetar dalam dadamu
meraikan masa depan yang pasti berkunjung
kembara panjang yang remang berliku.

kalau aku hampir sampai ke perhujungan
kulihat waktu merayap memanjat urat-urat usiamu
engkau adalah ibu dan bapa , tua-tua masa depan
penyair yang bersuara berani, berbicara tentang kebenaran
seniman yang tegak berdiri, melukiskan warna zaman.

kudengar muzik bergetar
mencari arah di persimpangan
mencari wajah perjalanan
teriring doa dan,Text Colour
Amin


Baha Zain
Dusun Permai
13 Disember, 2008

Dan saya masih menyimpan carikan muka depan ‘Postponing Truth’ dengan tandatangan sasterawan ini…meski hampir 5 tahun berlalu. Pastilah carikan itu lebih mahal harganya kerana ia menjadi nostalgia silam yang tiada galang gantinya.

Selepas MPR, puisi-puisinya dinikmati pada ruangannya khas di Dewan Sastera. Puas mencari buku asal ‘Postponing Truth & Other Poems’ akhirnya berjumpa. Dan kini di tangan saya, Edisi Khas Kumpulan Puisi Terpilih Baha Zain’…

Terima kasih tuan, kerna menjadi inspirasi puisi saya, bukan sekadar puisi yang dilakar di lembaran kertas, tetapi lebih daripada itu. Yakni menjadi penulis yang benar-benar tulen- hati dan perasaan!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s