Melupakan Tuhan

Posted on Updated on

Bismillah

Memang hidup satu pelarian. Penat dan lelah bergelut dengan bimbang. Di takah usia 27 tahun, melintasinya seperti melompat atas garisan halimunan.

Bererti tidak ada bezanya.

Penat mengejar urusan di pejabat, kusambung menjual jilbab dan busana. Lelah mengejar pelanggan, kubuka buku puisi lama-membaca. Apabila nyala semangat menjulang apinya, kucoretkan puisi sebuah dua. Saatnya tiba kuhantar pada editor. Tiada balasan. Kubuka mesin jahit. Kujahit  buat diri meski jahitannya tidak kemas. Apabila tiba ulangtahunku, kubakar kek meraikan ulangtahun yang tidak ada erti sekalipun.

Dan kitaran ini berputar. Berputar seperti roda.

Seolah-olah melupakan Tuhan.

Dalam banyak-banyak hal. Aku selalu mengingat diri. Soal keberkatan dan syukur. Keberkatan masa, Allah punya. Syukur, rasa anugerah Allah punya. (Sebenarnya kita hamba memang tak ada daya pun).

Lihat orang -jerit, “bahagianya!”. “Hebatnya dia”, bisik dalam hati. Tidak syukur.

Kalut di pejabat. Ada masa berlamaan di pantri, meluah bicara di  fb, mengintip yang diirikan di instagram.
Waktu tidak berkat.

Sebenarnya kan, semua yang kita lihat, iri dan idamkan ni, matlamatnya memang yang kita dah janji dengan Allah?

Atau kita sebenarnya mau menjadi derai-derai waktu yang dilupakan zaman…dilupakan Tuhan?

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s