Haramain

Posted on Updated on

Bismillah.

Permergian ke Haramain kali ini terasa begitu berbeza. Kegembiraannya terasa melonjak-lonjak.

Setelah dua tahun, kali ini kembara ke Tanah Suci ditemani Tuan Suami, yang pernah impian ini kudetikkan dalam nubari saat melangkah pulang usai solat di Kaabah. Baca: https://wardahputeh.wordpress.com/2012/06/17/indahnya-menjadi-tetamu-allah/

Debu padang pasir.

Bau bayunya yang khas.

Benderang sinar mentarinya.

Langit paling indah dilatari menara masjid.

Semuanya kekal sama, bahkan seperti delapan belas tahun dulu saat kakiku pertama kali menapak di atas tanahnya.

Selama 5 hari 4 malam di Madinatul Munawaarah dan 7 hari 6 malam di Makkatul Mukarramah, terasa tidak puas. Kerinduan bahkan terasa memulas-mulas. Di tanahair sibuk, terlalu sibuk dengan kerja. Di sana aku melihat manusia terlalu rakus mengejar Tuhan dan pahala.

Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun menjemput kami sekeluarga dengan kasih-Nya tak bertepi, dan kekasih-Nya telah meniupkan kententeraman dalam detakan jantung kami.

  • Saat sampainya di Madinatul Munawarrah, jam 2 pagi, Tuan Suami mengajak terus ke Masjidil Nabawi.  Rindu pada Rasulullah telah mendorongnya ke sana. Subhanallah, Rasul menemuinya langsung di Raudah tanpa perlu bersusah-payah. Ku lihat matanya berkaca indah.
  • Betul, di Haramain setiap bicara dan bisik hati akan menjadi kenyataaan, bahkan sewaktu di tanahair lagi. Buktinya kasutku hilang 3 kali.
  • Ziarah ke Muzium Haramain untuk melihat sejarah Masjidil Haram. Percuma senaskhah AQ.
  • Ziarah ke Hudaibiah, tempat berbaiat Rasulullah.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s